Info peluang usaha, Bisnis Rumahan, Modal usaha, bisnis online dan Usaha kecil>

Campur Tangan Orangtua dalam Keluargaku

Freepik.com

“Saya ingin mandiri. Saya ingin membangun keluarga bersama istriku. Tapi…mama selalu ikut campur dalam rumah tanggaku.” Itulah sepenggal ungkapan dari klien saya, saat saya melakukan riset tentang perkawinan. Problem mengenai campur tangan orangtua yang menonjol merupakan masalah yang kerap dialami dalam setiap keluarga atau perkawinan.

Kalau bicara tentang perkawinan….hmmm…banyak sekali yang bisa kita perbincangkan.

Lembaga yang dinamakan perkawinan seusia manusia itu sendiri. Dan dari waktu ke waktu tidak habis untuk didiskusikan.

freepik.com

Bukankah perkawinan adalah persekutuan hidup antara  seorang pria dan seorang wanita yang terjadi karena persetujuan pribadi, yang tidak dapat ditarik kembali.

Perkawinan harus diarahkan kepada saling mencintai sebagai suami istri dan kepada pembentukan keluarga. Oleh karena itu, dituntut kesetiaan yang sempurna serta mempunyai wilayah eksklusif yang mutlak menjadi hak pasangan suami istri tersebut untuk mengaturnya.

Nah…bila ada pihak “ketiga” yang ikut campur dalam ranah perkawinan tersebut, maka akan terganggulah lembaga perkawinan tersebut.

Pihak ketiga bisa berasal dari orangtua, pria idaman lain, wanita idaman lain, mertua ataupun keluarga besar yang lain. Ironisnya, campur tangan orangtua menjadi fakta yang sering dialami dalam sebuah perkawinan.

Terganggunya Relasi

Dari riset yang pernah saya lakukan, betapa ikut campurnya orangtua ke hidup perkawinan sang anak, dapat mengakibatkan terganggunya relasi suami istri.

Dampak terberat adalah…perceraian.

Hmmm….tragis.

Orangtua seharusnya menyadari bahwa tidak sepenuhnya bisa mengatur seluruh aspek kehidupan rumah tangga anak. Ada kenyataan di depan mata bahwa anak sudah memiliki wilayah eksklusif yang mutlak menjadi hak anak dan menantu untuk mengaturnya.

Orangtua hanya bisa menampung keluhan anak. Tidak memberi keputusan.

Seringkali ada “perebutan kekuasaan” antara orangtua dengan menantu.

Orangtua masih merasa berhak atas hidup anaknya. Kemudian dengan campur tangan orangtua, mereka merasa berhak mengatur, bahkan menjejalkan keputusan atas hidup perkawinan sang anak. Dan menantu juga merasa berhak atas hidup pasangannya.

freepik.com

Dampak Campur Tangan Orangtua

Semakin dalam campur tangan orangtua, sesungguhnya tidak membawa dampak baik, namun justru berdampak negatif bagi perkawinan pasangan.

Maka harus diperhatikan batas-batas yang menjadi wilayah mutlak sebuah perkawainan. Agar orangtua juga mampu menjaga diri untuk tidak memasuki yang menjadi wilayah dan hak setiap pasangan suami dan isteri.  

Ada beberapa hal yang perlu disadari:

1. Perkawinan mempunyai wilayah eksklusif yang hanya dimiliki oleh pasangan suami istri.

2. Wilayah eksklusif ini mutlak menjadi hak pasangan suami istri untuk mengaturnya.

3. Campur tangan pihak luar, baik keluarga besar maupun pihak-pihak yang tidak mempunyai hubungan kekerabatan dengan pasangan suami istri tersebut, akan menimbulkan dampak tidak sehat bagi kelangsungan hidup perkawinan pasangan suami istri tersebut.

4. Kehidupan keluarga inti mempunyai hak otonomi yang harus dihargai dan dihormati oleh siapa pun juga.

5. Setiap perkawinan menampilkan kekhasan konflik dalam setiap keluarga dan harus dimengerti dan dihormati oleh siapa pun.

profil
Istimewa

Penulis:

Ant. Judi Hadianto

Asisten Konselor Perkawinan [email protected]

2 Comments on Campur Tangan Orangtua dalam Keluargaku

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*