Info peluang usaha, Bisnis Rumahan, Modal usaha, bisnis online dan Usaha kecil>

CEO Azana Hotels & Resorts : Bisnis Perhotelan di Era Leisure Kian Moncer dan Beragam

CEO Azana Hotels & Resorts, Dicky Sumarsono. FOTO : Dokumentasi Cantieq.com

CANTIEQ.COM, SOLO –  CEO Azana Hotels & Resorts, Dicky Sumarsono,menyebut, pasar bisnis perhotelan di era Leisure kian moncer dan beragam.

Ia menyatakan hal tersebut dalam siaran pers yang dikirim ke Cantieq.com, Senin (9/9/2019).

“Dulu kita masih mengalami lawan yang jelas, supply demand-nya tunggal, pola kerja dan bisnis yang masih linier,” katanya.

“Sedangkan di ‘dunia baru’ tempat kita beraktivitas saat ini, justru lawan-lawan kita tidak terlihat, supply and demand melalui jejaring” ucapnya.

CEO Azana Hotels & Resorts, Dicky Sumarsono (kanan), dalam sebuah acara. FOTO : Dokumentasi Cantieq.com

Namun demikian, dengan posisi bisnis khususnya industri perhotelan di “dunia baru” seperti ini, justru banyak peluang yang bisa diambil oleh pengusaha dari perusahaan lain.

“Atau dari ide bisnis yang telah berjalan dari perusahaan lain, yang mungkin belum optimal dan masih bisa kita kembangkan hanya dengan merubah bisnis model, memperbaiki kinerja, merubah strategi, dan melakukan perubahan-perubahan secara sering agar tetap dinamis,” ucap Dicky.

Strategi

Menurut dia, strategi bisnis hotel yang diperlukan di era leisure antara lain menyuntikkan elemen experience ke value proposition, dan menciptakan momen WOW Experience.

“Juga, ciptakan happiness-esteem-meaning (HEM) pada konsumen, diferensiasi tercipta jika produk dan layanan memiliki unsur orisinalitas dan otentisitas, berikan panggung pada konsumen, ciptakan cerita yang otentik, dan lain-lain.”

Perealisasian strategi tersebut di atas harus terkorelasi dengan sisi pemasaran.

Sebab, kata Dicky, konsumen baru semakin empowered dengan digitalisasi.

“Maka dari itu marketing pun harus bergerak dari enjoyment, experience, engagement, kemudian empowerment,” katanya menegaskan.

Namun sebenarnya itu semua tak lain dari pentingnya sebuah keberanian berimprovisasi.

“Saya yakin, semakin cepat hotel bergerak, semakin mudah untuk mengubah tantangan bisnis menjadi kesempatan berbisnis yang baru,” paparnya.

CEO Azana Hotels & Resorts, Dicky Sumarsono. FOTO : Dokumentasi Cantieq.com

Dicky menyebut bisnis perhotelan merupakan salah satu bisnis yang berpeluang besar untuk terus bertumbuh dan berkembang sekaligus menuntut sistem perubahan yang cenderung cepat dan sering.

“Untuk menyesuaikan diri, dibutuhkan kemampuan manuver atau bahkan berpindah jalur demi memperoleh value yang lebih tinggi,” kata dia.

Ia juga mengatakan, pada umumnya pada neraca keuangan hotel dijelaskan sesuatu yang bersifat fisik yang harus dimiliki perusahaan dan ada dalam batas-batas perusahaan.

Biasanya, hotel melihat yang paling penting neraca dan laba rugi.

“Bagi hotel yang memiliki aset dan barang, neraca keuangan akan memberikan gambaran yang wajar mengenai aset produktif dan laporan laba rugi dalam menciptakan nilai bagi pemegang saham,” ujarnya.

CEO Azana Hotels & Resorts, Dicky Sumarsono (berdiri), dalam sebuah acara. FOTO : Dokumentasi Cantieq.com

Namun, ujar Dicky, tidak demikian halnya bagi perusahaan digital, sering sekali mereka tidak memiliki aset tetapi mereka memiliki ekosistem yang tumbuh berkelanjutan.

“Jadi, saya memprediksi,  adanya shifting dari konsumsi non leisure menjadi leisure serta menguatnya perekonomian global dan banyaknya pilihan baru tentang smart budget traveling, akan mendorong naiknya tingkat perjalanan di tahun 2019 hingga tahun-tahun ke depan,” katanya.

“Semuanya menjadi semakin mudah dan semakin terjangkau untuk dikunjungi,” ujar Dicky menambahkan.

Menurutnya, hal ini akan berdampak pada occupancy hotel yang akan semakin tinggi.

Pasalnya, kebutuhan berlibur bagi keluarga dan kalangan milenial sekarang ini sudah menjadi kebutuhan utama.

“Apalagi dari sisi pendapatan dan daya beli, juga terus meningkat,” ucapnya.  (Junianto Setyadi)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*